3.4.09

Ucapkan Ya Untuk Pernikahan Dini

Ada salah satu dari temanku bercerita ketika kami sedang makan-makan dan minum-minum di FoodCourt walaupun hanya dengan nasi kucing dan segelas es teh. Temanku bercerita kalau teman dari temannya
telah menghamili seorang gadis (mahasiswi) katanya sih di tempat kosnya tersebut sangat bebas, dalam arti boleh membawa teman perempuan masuk ke kamar. Entah bagaimana kejadian yang sangat di benci Allah tersebut bisa terjadi. Jika ingin melakukan hal tersebut kenapa sih gak nikah dulu aja, bukankah kalo sudah nikah tidak ada yang perlu ditakutkan. Itulah hal menyebabkan aku mencoba memposting tulisan dari majalah ElFata Vol. 4 no. 06/2004.

Pada tahun 80-an masyarakat Yogyakarta dibuat heboh dengan hasil penelitian seorang pelajar SMU yang menunjukkan semakin mananjaknya angka pergaulan bebas dikalangan mahasiswa. Kini mereka dibuat gempar lagi dengan penelitian serupa. Hasilnya 97.05 % mahasiswi kota pelajar yang menjadi responden ini ternyata sudah raib keperewanannya saat masih kuliah. Na’udzubillah! Angka tersebut diperoleh dari penelitian yang digarap oleh Lembaga Studi Cinta dan Kemanusiaan dan Pusat Pelatihan Bisnis dan Humaniora (LSCK PUSBIH).

Yang mengherankan, semua responden mengaku melakukan hubungan seks tanpa paksaan dan tekanan dari siapapun alias suka sama suka dan merasa ada kebutuhan. Bahkan sebagian mengaku telah melakukannya dengan lebih dari satu pasangan dan ini tidak bersifat komersil.

Menurut lip Wijayanto, Direktur Eksekutif LSCK PUSBIH penelitian dilakukan selama 3 tahun berturut-turut terhitung mulai Juli 1999 sampai Juli 2002 dengan melibatkan 1660 responden dari 16 perguruan tinggi negeri atau swasta di Yogyakarta.

Dari semua responden tersebut 97,05 % mengaku sudah hilang keperawanannya saat masih kuliah. Hanya 3 responden saja (0,18 % saja) yang mengaku sama sekali belum pernah melakukan kegiatan seks termasuk masturbasi. “Ketiga responden juga mengaku belum pernah mengakses tontonan/bacaan berbau seks”, ungkap lip Wijayanto. (detik.com)

Siapa dalangnya?

Meski tidak seratus persen percaya dengan hasil survey tersebut tapi kita tetap layak untuk mengelus dada. Ternyata kejadian seperti kasus di atas bukan hanya bikin kelabakan manusia di tanah air kita saja. Amerika yang liberal bin sekuler saja juga tengah panik menyaksikan detik-detik kehancuran remajanya yang kian heboh melakukan pergaulan bebas. Data dari peneliti di Boston, Massachusetss, AS menyebutkan 47 % pelajar SMP kelas 3 Amerika telah melakukan seks bebas. Hanya 23 % saja yang tidak mau pacaran tapi oke-oke saja diajak berbubungan seks (sama saja bohong).

Lalu bagaimana dengan siswa SMU-nya? Waah… lebih takut lagi! Data yang diperoleh PBB menunjukkan bahwa lebih dari 80 % siswa SMU Amrik pernah ber-seks bebas. Setidaknya mereka mengaku pernah melakukan sekali saat di survey PBB.

Bahkan parahnya mereka menganggap bahwa hal itu adalah wajar-wajar saja. Bahkan ada juga yang setuju sekali dengan buhungan macam itu. Setidaknya 30,4 % yang OK dan setuju sama seks bebas dan 47,8 % yang berpendapat kalau hal tersebut bisa dimaklumi.

Nikah Dini?

Nah, semua data yang sudah terungkap disini seharusnya membuat para orangtua khawatir saat menjumpai anak-anak kesayangannya pada melakukan apa yang disebut sebagai pacaran. Begitupun dengan para aktivis fundamentalis pacaran semestinya sadar diri dan memulai berpikir panjang kembali jika mau meneruskan aktivitas haram itu.

Dari pada pacaran yang full maksiat seperti itu lebih baik berpikir solusi yang paling aman sekaligus berpahala. Satu-satunya solusi yang tanpa resiko dosa dan so pasti terjamin keamanannya hanyalah segerakan menikah!

Walau tidak sedikit kamu yang protes berat baik dari kalangan orangtua atau remaja sendiri. Sebab buat kebanyakan remaja yang namanya nikah dini itu sama sekali tidak terbayang rasanya. Saat ini yang mereka tahu hanya main, main dan main terus! Bahkan yang namanya pacaran buat mereka dianggap hanya main-main saja! Lho kok main-main sama anak orang? Remaja yang sudah siap dari segi material saja mengaku tidak waktu ditantang nikah sama pacarnya. Usut punya usut ternyata dia memang tidak mau mempunyai komitmen dan terkait dengan pasangan hidupnya. Ia sendiri punya pacar lebih dari satu lho..

Ancaman Remaja Makin Global

Ingat ya kalau remaja kita diberi lampu merah buat nikah muda lalu bagaimana upaya untuk menanggulangi pergaulan remaja yang semakin brutal ini? Padahal masa transisi dari anak-anak menuju dewasa berlangsung lebih cepat. Bahkan usia saat berhubungan seks pertama ternyata selalu lebih muda dari pada usia ideal menikah.

Informasi global (audio visual) yang semakin mudah diakses adalah salah satu bahaya laten yang mengancam remaja dimana-mana. Pada akhirnya, tidak bisa dipungkiri siapapun kalau faktor tadi akan mempercepat usia awal seksual aktif serta berekses pada kebiasaan berperilaku seksual beresiko tinggi. Film-film yang hot, mulai dari berdua-duaan, berpelukan, bahkan aktivitas yang lebih jauh lagi ditambah dengan tontonan aurat gratis berseliweran dimana-mana. Ini semua tentu tambah menstimulan remaja untuk hobi mengkhayal yang tidak-tidak. Sehingga mereka semakin cepat menuju kedewasaan.

Nikah Dini = Solusi Teraman

So, pertanyaan besar yang harus dijawab oleh para orangtua dan remaja yang masih tidak setuju dengan pernikahan dini, apa solusi bagi para remaja di tengah arus informasi yang semakin tidak karuan ini?? Apa iya harus rela melegalkan free sex?
Disinilah hebatnya islam yang dengan tegas mendorong para pemuda yang sudah mampu untuk segera menikah.

“Wahai para pemuda, barang siapa yang telah mampu hendaknya menikah, sebab menikah itu akan lebih menundukan pandangan dan akan lebih menjaga kemaluan. Kalau belum mampu hendaknya berpuasa sebab berpuasa akan menjadi perisai bagimu” (Bukhari dan Muslim)

Siap-siap

Tapi bagaiman jika para remaja belum juga siap mental? Naah... bukankah sudah menjadi tugas orangtua untuk menyiapkan anak-anaknya agar bisa berpikir dewasa dan matang sehingga sudah bisa memahami apa yang disebut dengan tanggung jawab. Jadi walau mereka belum berpikir untuk nikah tapi sudah mempunyai kepribadian yang matang, Usamah bin Zaid saja menjadi panglima perang saat usianya masih 18 tahun lho?
Bagaimana kalau soal ekonomi? Katanya Muhammad Fauzhil 'Adhim (peulis buku “Indahnya Pernikahan Dini” dan buku-buku lain tentang pernikahan) bahwa para pria tidak mau menikah karena soal ekonomi adalah korban kapitalisme.

Buktinya.... Muhyono mahasiswa semester 5 jurusan Matematika IPB yang baru 20 tahun yang menikahi kakak kelasnya yang mengambil jurusan Kimia semester 11 ini berkomentar “Menurut saya yang paling penting dalam memulai pernikahan adalah keyakinan pada Allah bahwa Allah akan memudahkan rezeki kepada mereka yang menikah. Hal inilah yang memunculkan optimisme saya untuk memasuki jenjang pernikahan. Alhasil sejak saya menikah bulan Mei 2002 saya sudah mandiri dan tidak pernah disuplai orangtua”.

Percaya tidak nikah itu bukan soal ekonomi tetapi lebih kesoal kematangan pemikiran dan keyakinan. Walaupun soal kematangan diri dalam memimpin rumah tangga ini bukan hal gampang meski tidak bisa juga dibilang susah. Interaksi dengan nilai-nilai islamiyah yang membuat seorang matang dan sadar diri. Kuncinya : mau belajar dan menerima segala kelebihan dan kekurangan pasangan kita. Ini bukan pula soal umur lhoooo. Tidak sedikit yang nikah di usia dewasa tapi karena tidak pernah ta'lim/belajar ilmu agama yang benar akhirnya bubar juga ditengah jalan! Bakankah Aisya menikah diusia yang teramat muda? Siapa berani mencontoh Aisya?

Kalau begitu apa yang layak kita ucapkan untuk pernikahan dini islami? Katakanlah ya!

2 comments:

  1. speechless..
    for me, still, marriage is not an easy thing. hiks. many things to prepare. hoho.

    ReplyDelete
  2. benar, pernikahan bukanlah suatu hal yang mudah karena pernikahan adalah suatu hal yang sakral.

    ReplyDelete