4.6.09

Lunturnya Nilai Tata Krama di Kehidupan Sehari-hari

Sebagai pelajar kita membutuhkan pikiran, tenaga, dan kesabaran. Pikiran untuk menyelesaikan masalah atau problem yang ada, tenaga untuk berhasilnya suatu kegiatan yang akan dikerjakan dan kesabaran untuk menghindari akan datangnya stress. Kesabaran point yang utama dalam semua hal. Seperti kesabaran dalam belajar, kesabaran dalam mengerjakan sesuatu. Bahkan ada beberapa mahasiswa atau pelajar yang stres karena tidak adanya kesabaran dalam melaksanakan dan mengerjakan sesuatu.

Coba ingatlah ketika anda masih kecil dan memulai proses belajar di Taman Kanak-Kanak (TK), begitu juga ketika Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) dan sampai menjadi seorang mahasiswa. Sejak TK sampai SMA kita mungkin selalu disuruh mengerjakan ini dan itu, berbeda dengan seorang mahasiswa. Tapi ada satu hal yang sudah mulai ditinggalkan bagi para mahasiswa yaitu tata krama. Padahal dari TK sampai SMA dahulu, kita selalu dilatih etika atau tata krama dalam keseharian.

Setelah penulis membaca sebuah buku yang berjudul Tata Krama Pergaulan yang dicetak oleh penerbit Universitas Indonesia (UI-Press)-1984, penulis merasakan kebenaran yang terdapat dalam Bab Pendahuluan dimana penulis buku tersebut mengatakan bahwa kita hidup dalam kurun waktu yang ditandai dengan aneka ragam perubahan yang sangat cepat dalam berbagai segi kehidupan. Seiring dengan perubahan itu, terjadi pula perubahan cara memandang dan menafsirkan norma-norma kehidupan. Apa yang dulu dianggap "aksioma" kini pertanyakan, didiskusikan, dibahas. Apa yang dulu "dibungkus rapat-rapat" kini "disingkap lebar-lebar". Tabu menjadi tabuhan. Tabuhan menjadi tabu. Larangan menjadi anjuran. Anjuran menjadi larangan.

Tahap serba tak pasti ini, yang ditandai oleh gesekan dan benturan berbagai norma, sangat terasa dalam menerapkan kaidah sopan santun. Yang sopan dan yang santun dalam berpakaian, makan, berjalan, berbicara dan bergaul setidak-tidaknya menjadi kurang jelas. Dahulu pada banyak masyarakat, kalau orang tua memarahi anaknya, sang putra bukan saja tak boleh mengajukan keberatan, menatap orang tua pun dianggap keterlaluan. Dulu cara berpakaian yang sopan adalah yang hanya memperlihatkan wajah, tangan dan kaki. Sekarang hal itu dianggap menghambat gerakan, tidak efisien, tidak praktis, kuno. Dulu bacaan seksologi disimpan di dasar peti terkunci. Yang boleh membaca hanyalah orang tua. Sekarang buku-buku itu dijadikan bacaan wajib dalam rangka pendidikan seks. Dahulu kalau pria dan wanita remaja yang kedapatan berjalan berduaan langsung diproses. Sekarang kalau gadis berjalan sendirian dibilang kesepian. Pria berjalan sendirian dibilang ketinggalan.

Begitulah pendahulan dalam buku tersebut, meskipun sudah sangat lama sekali tapi tidak ada salahnya kalau kita membaca dan menerapkan (menghidupkan) kembali tata krama atau etika yang sudah mulai luntur di kehidupan masyarakat. Penulis yakin di zaman sekarang ini pasti masih ada orang-orang yang mulai menghidupkan kembali tata krama yang baik dan benar. Semoga kita semua mampu menghidupkan etika atau tata krama yang mulai luntur tersebut. Aamiin.....



No comments:

Post a Comment